Thursday, September 9, 2010

Kelahiran dan masa Kecil Sang Sultan...

Irak, 532 hijriah...

Pada suatu malam di sebuah desa bernama Tikrit yang terletak di dekat Kota Baghdad, sebuah keluarga dalam keadaan terburu-buru bersiap-siap harus meninggalkan istana yang selama ini mereka tinggali. Tersebutlah nama dua orang bersaudara, Najmuddin Ayyub bin Sadhi dan Shirkuh Assaddin, dua orang bersaudara berdarah bangsawan yang mendapat kepercayaan dari penguasa otoritas keamanan Tikrit saat itu yang bernama Mujahiddin Bahruz, untuk menjadi penanggung jawab dari istana di Tikrit tersebut. Kedua bersaudara ini bersama dengan keluarga mereka, pada akhirnya harus pergi meningalkan istana yang selama ini dipercayakan kepada mereka, lantaran sebelumnya mereka telah menghukum mati seorang petugas pengawal istana lantaran petugas terebut telah berbuat tidak baik kepada seorang wanita pelacur di saat wanita tersebut meminta pertolongan kepada mereka. Dikarenakan kekhawatiran akan adanya tindakan balas dendam dari pihak keluarga terhukum, akhirnya Sang Penguasa otoritas keamanan Tikrit meminta kedua bersaudara ini untuk pergi meninggalkan Tikrit.

Tapi di malam itulah, justru lahir seorang anak lelaki Najmuddin Ayyub. Seorang anak lelaki yang hampir saja dibunuh oleh orangtuanya karena kekhawatiran akan nasib buruk yang dibawa oleh anak tersebut disebabkan oleh kelahirannya yang terjadi di saat yang tidak tepat. Namun karena pemahaman yang baik tentang agama, serta pencegahan yang dilakukan oleh orang-orang disekitarnya, Najmuddin Ayyub urung membunuh sang bayi kecil yang kemudian diberi nama Yusuf Salahuddin, yang tanpa siapa sangka, adalah seorang pemimpin besar umat Islam di masa depan, dihormati oleh musuh-musuhnya dan dicintai rakyatnya.

Keluarga tersebut akhirnya berhijrah ke Mosul, diterima oleh penguasa Mosul saat itu yang bernama Imaduddin Zanki, yang memiliki hutang budi kepada mereka pada suatu peperangan terdahulu. Karena kepercayaan, rasa hutang budi serta keyakinan akan kemampuan dari Najmuddin Ayyub dan Shirkuh, keduanya dipercaya untuk menjadi pemimpin pasukan perang pemerintahan Mosul. Hingga pada Tahun 534 Hijriah, Najmuddin dipercaya untuk menjadi Gubernur Baalbak

Di Baalbak inilah Sang Sultan dibesarkan dan mendapatkan pendidikan yang baik tentang keahlian berkuda, seni berperang, serta kemampuan politik dan manajemen. Selanjutnya pada usianya yang ke-17, Sang Sultan muda berpindah ke Damaskus. Di sini lah ia belajar bahasa arab, serta ilmu qur’an dan hadits. Tersebutlah beberapa nama yang menjadi guru beliau seperti Al-Hafidz As-Salafi, Ibnu ‘Auf, An-Naisaburi dan Abdullah Ibnu Barri. Mereka lah para tokoh-tokoh ilmu hadits dan penghapal Quran di Damaskus, dimana para pemuda dan sarjana dari seluruh penjuru negeri datang untuk menuntut ilmu kala itu. Selain dari nama-nama diatas Ia pun menimba ilmu dari seorang tokoh di Damaskus yang bernama Abdullah ibnu Asrun, seorang yang sangat disegani pengetahuannya dan seorang yang dipercaya menjadi ketua dewan hakim di kota tersebut. Salahuddin sangat ahli dalam menunggang kuda, memanah, berburu dan seni berperang. Lingkungan yang sangat mendukung, telah membuatnya begitu ahli dalam menyelesaikan konflik di medan perang dan mengelola pasukan. Kemampuaannya adalah perpaduan antara kecerdasan, bakat, keturunan, lingkungan serta pendidikan dan pelatihan yang ketat. Sebuah perpaduan yang jarang terjadi di diri satu orang anak muda.

Di Damaskus, Sang Sultan muda menjalani kehidupan bersama Nuruddin, Putra Imaduddin yang menjadi gubernur Damaskus. Dimana ia ditunjuk oleh Nuruddin untuk menjadi kepala keamanan Kota Damaskus. Tidak butuh waktu lama bagi seorang Salahuddin yang terkenal sebagai seorang pemuda yang sopan, tenang, dan saleh serta memiliki semangat yang besar terhadap Islam dan umat muslim untuk dapat membersihkan Damaskus dari tindak kejahatan serta mewujudkan stabilitas keamaan disana.

Untuk menggambarkan suasana kota Damaskus saat itu, seorang yang bernama Hassan bin Numair atau yang terkenal dengan nama Arqalah membuat sebuah syair:

Wahai para pencuri Syiria, gunakanlah waktu kalian

Dan dengan kata-kataku, aku akan memberitahu kalian

Yusuf telah datang kepada kalian

Yang namanya seperti Nabi Yusuf a.s, berwawasan luas lagi tampan

Dimana salah satunya memotong tangan wanita,

dan yang satu lagi memotong tangan para pencuri


sumber : “Salah Ad-Din Al-Ayyubi, Hero of the Battle of Hattin and Liberator of Jerusalem from Crusaders”. Abdullah Nasih Ulwan. 2002.

No comments:

Post a Comment